Social Icons

20 April 2015

SEJARAH BERDIRINYA KOKAM (2)

Gambar: KOKAM Kulon Progo
PERWIS (Perwakilan Istimewa) PP Muhammadiyah di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 1965 mengeluarkan pernyataan mengutuk keras apa yang menamakan Gerakan 30 September dan apa yang disebut “Dewan Revolusi”.
Peristiwa demi peristiwa intimidasi dialami oleh organisasi-organisasi muda Islam seperti intimidasi yang dilakukan PKI antara lain peristiwa Kanigoro. Kanigoro adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Pada bulan Januari 1965, sekelompok pelajar Islam (PII) mengadakan Mental Training.
Saat itu ada sekitar 100 orang PII (Pelajar Islam Indonesia) dari seluruh daerah di Jawa Timur yang sedang mengikuti Mental Training di Masjid At Taqwa. Setelah selasai Sholat Shubuh tanggal 6 Januari 1965 tiba-tiba datang segerombolan orang berpakaian hitam-hitam menyerang mereka. Aktivis dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) berpakaian hitam-hitam dengan jumlah mencapai ribuan orang yang dipimpinan Suryadi itu kemudian langsung menyeruak ke dalam masjid membubarkan acara PII itu. Peserta Mental Training PII langsung digelandang ke kantor kecamatan dan kantor polisi yang ada di Kras. Beberapa anggota PII banyak yang mengalami penyiksaan.

 Pada tanggal 6 Januari 1965 Letnan Kolonel S. Prodjokusumo selaku Komandan KOKAM mengadakan Apel KOKAM yang pertama diadakan di halaman Universitas Muhammadiyah Jl. Limau Kebayoran Baru. Seluruh Cabang dan Calon Cabang Muhammadiyah telah membentuk KOKAM di Cabangnya masing-masing. Yang hadir dalam apel itu tidak kurang dari 2500 orang dengan pakaian bebas karena apel pertama ini belum ada pakaian seragama KOKAM.
 Tanggal 10 Oktober 1965 Perwis PP Muhammadiyah Jakarta mengadakan rapat di Menteng Raya 62 yang membahas situasi dewasa itu. Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Raya melaporkan telah terbentuknya KOKAM Jaya dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Rapat Perwis tersebut memutuskan mengesahkan KOKAM dan Pimpinan KOKAM dipercayakan kepada Letnan Kolonel S. Prodjokusumo. Kedudukan Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai komandan KOKAM Jaya makin kokoh dan mantap. 
 Tanggal 9 sampai dengan 11 November 1965 PP Muhammadiyah mengadakan konferensi kilat yang dihadiri oleh perwakilan Muhammadiyah seluruh Indonesia. Dalam Konperensi kilat tersebut memutuskan pengesahan KOKAM. KOKAM menjadi salah satu aparatur dalam melaksanakan Komando Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bapak K.H.A. Badawi.
 Berdirinya secara aklamasi sepenuhnya disahkan Bapak K.H.A. Badawi sebagai Ketua PP Muhammadiyah dan komando pertama dari beliau adalah “Mensirnakan Gerakan 30 September / PKI adalah ibadah”. Dengan komando ini seluruh jajaran KOKAM harus melaksanakannya. Selain dari itu konperensi memutuskan: Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai Ketua KOKAM seluruh Indonesia disebut sebagai Panglima KOKAM.
 Setelah keputusan Konferensi Kilat Muhammadiyah, seluruh kekuatan keluarga besar Muhammadiyah menjelma menjadi KOKAM dan merupakan satu kesatuan organisasi dengan komando KOKAM Pusat bangkit menentang Gerakan 30 September / PKI bersama dengan unsur ABRI.
 Laporan-laporan pembentukan dan kegiatan KOKAM mengalir dari seluruh Tanah Air. Di Yogyakarta,KOKAM juga terbentuk dan menjadi pengawal Muhammadiyah Wilayah dan PP Muhammadiyah yang berdomisili di Yogyakarta. KOKAM Yogyakarta dengan daya tangkal yang tinggi dapat melaksanakan tugasnya dengan baik bahkan anggota KOKAM dilatih oleh Pasukan Baret Merah (RPKAD) dan menjadi anak emasnya Sarwo Edhi. Menurut kisah anggota KOKAM tahun 1965-an yang sekarang masih aktif di Muhammadiyah Tempel, KOKAM dalam menjalankan tugasnya memang tidak bisa terlepas dari RPKAD bahkan sering dipinjami sejata, termasuk juga granat. Sebetulnya masih banyak kisah-kisah tentang eksistensi KOKAM di Wilayah Yogyakarta, termasuk di Turi dimana asal kelahiran Letnan Kolonel S. Prodjokusumo. Temasuk juga di Prambanan, anggota KOKAM digembleng oleh Subagiyo HS yang sekarang mantan KSAD.
 Berdiri pula KOKAM Jawa Tengah, mereka mengadakan latihan dan pembinaan kader. Kekuatan KOKAM Jawa Tengah berpusat di Pekalongan yang mempunyai satu kompi “Pasukan Inti”, yang mendapat latihan dan pembinaan dari ABRI. Disamping Pekalongan, Surakarta juga mempunyai kesatuan-kesatuan KOKAM, diantaranya ada pasukan intinya yang diberi nama “Fighting Flower” (Bunga Penempa). KOKAM di Surakarta juga bahu membahu dengan ABRI khususnya RPKAD.
 Pembentukan KOKAM Jawa Timur cukup unik, Fatchurrahman pada tanggal 1 Oktober 1965 kebetulan berada di jakarta. Letnan Kolonel S. Prodjokusumo mengangkat beliau langsung menjadi Komandan KOKAM Jawa Timur, setelah pulang ke Jawa Timur, barulah beliau menyusun pasukannya. Unsur-unsur perwira Angkatan Darat dan Angkatan Laut di Jawa Timur yang melatih dan membina bahkan ada yang langsung memimpin kesatuan KOKAM. Jawa Timur merupakan daerah yang paling rawan ke-2 setelah Jawa Tengah. Pernah dalam suatu upacara, barisan KOKAM terkena berondongan peluru.
Diluar Jawa tercatat yang secara teratur memberikan laporan, antara lain Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Riau, dan Jambi. Bahkan KOKAM Sulawesi Selatan diberi pinjaman senjata oleh ABRI dan mengadakan camping bersama ABRI. KOKAM Lampung bekerjasama dengan Pimpinan Perkebunan Negara dan mendapat pinjaman kendaraan Landrover dan sebagainya.

Ditulis Oleh: (Komandan Operasional KOKAM Markaz Daerah Sleman)
Sumber: Buku SESOSOK PENGABDI “SERBA-SERBI PRIBADI H.S. PRODJOKUSUMO” (Diterbitkan oleh Yayasan Amal Bakti Masyarakat Jakarta. Cetakan Pertama tahun 1990)
http://www.kokam.or.id/

1 komentar: