![]() |
| Gambar: KOKAM Kulon Progo |
Peristiwa demi peristiwa intimidasi dialami oleh
organisasi-organisasi muda Islam seperti intimidasi yang dilakukan PKI
antara lain peristiwa Kanigoro. Kanigoro adalah sebuah desa yang
terletak di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Pada bulan Januari 1965,
sekelompok pelajar Islam (PII) mengadakan Mental Training.
Saat itu ada sekitar 100 orang PII (Pelajar Islam Indonesia) dari
seluruh daerah di Jawa Timur yang sedang mengikuti Mental Training di
Masjid At Taqwa. Setelah selasai Sholat Shubuh tanggal 6 Januari 1965
tiba-tiba datang segerombolan orang berpakaian hitam-hitam menyerang
mereka. Aktivis dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) berpakaian
hitam-hitam dengan jumlah mencapai ribuan orang yang dipimpinan Suryadi
itu kemudian langsung menyeruak ke dalam masjid membubarkan acara PII
itu. Peserta Mental Training PII langsung digelandang ke kantor
kecamatan dan kantor polisi yang ada di Kras. Beberapa anggota PII
banyak yang mengalami penyiksaan.
Pada tanggal 6
Januari 1965 Letnan Kolonel S. Prodjokusumo selaku Komandan KOKAM
mengadakan Apel KOKAM yang pertama diadakan di halaman Universitas
Muhammadiyah Jl. Limau Kebayoran Baru. Seluruh Cabang dan Calon Cabang
Muhammadiyah telah membentuk KOKAM di Cabangnya masing-masing. Yang
hadir dalam apel itu tidak kurang dari 2500 orang dengan pakaian bebas
karena apel pertama ini belum ada pakaian seragama KOKAM.
Tanggal 10 Oktober
1965 Perwis PP Muhammadiyah Jakarta mengadakan rapat di Menteng Raya 62
yang membahas situasi dewasa itu. Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Raya melaporkan telah
terbentuknya KOKAM Jaya dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Rapat
Perwis tersebut memutuskan mengesahkan KOKAM dan Pimpinan KOKAM
dipercayakan kepada Letnan Kolonel S. Prodjokusumo. Kedudukan Letnan
Kolonel S. Prodjokusumo sebagai komandan KOKAM Jaya makin kokoh dan
mantap.
Tanggal 9 sampai
dengan 11 November 1965 PP Muhammadiyah mengadakan konferensi kilat yang
dihadiri oleh perwakilan Muhammadiyah seluruh Indonesia. Dalam
Konperensi kilat tersebut memutuskan pengesahan KOKAM. KOKAM menjadi
salah satu aparatur dalam melaksanakan Komando Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Bapak K.H.A. Badawi.
Berdirinya secara
aklamasi sepenuhnya disahkan Bapak K.H.A. Badawi sebagai Ketua PP
Muhammadiyah dan komando pertama dari beliau adalah “Mensirnakan Gerakan
30 September / PKI adalah ibadah”. Dengan komando ini seluruh jajaran
KOKAM harus melaksanakannya. Selain dari itu konperensi memutuskan:
Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai Ketua KOKAM seluruh Indonesia
disebut sebagai Panglima KOKAM.
Setelah keputusan
Konferensi Kilat Muhammadiyah, seluruh kekuatan keluarga besar
Muhammadiyah menjelma menjadi KOKAM dan merupakan satu kesatuan
organisasi dengan komando KOKAM Pusat bangkit menentang Gerakan 30
September / PKI bersama dengan unsur ABRI.
Laporan-laporan
pembentukan dan kegiatan KOKAM mengalir dari seluruh Tanah Air.
Di Yogyakarta,KOKAM juga terbentuk dan menjadi pengawal Muhammadiyah
Wilayah dan PP Muhammadiyah yang berdomisili di Yogyakarta.
KOKAM Yogyakarta dengan daya tangkal yang tinggi dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik bahkan anggota KOKAM dilatih oleh Pasukan Baret
Merah (RPKAD) dan menjadi anak emasnya Sarwo Edhi. Menurut kisah anggota
KOKAM tahun 1965-an yang sekarang masih aktif di Muhammadiyah Tempel,
KOKAM dalam menjalankan tugasnya memang tidak bisa terlepas dari RPKAD
bahkan sering dipinjami sejata, termasuk juga granat. Sebetulnya masih
banyak kisah-kisah tentang eksistensi KOKAM di Wilayah Yogyakarta,
termasuk di Turi dimana asal kelahiran Letnan Kolonel S. Prodjokusumo.
Temasuk juga di Prambanan, anggota KOKAM digembleng oleh Subagiyo HS
yang sekarang mantan KSAD.
Berdiri pula KOKAM
Jawa Tengah, mereka mengadakan latihan dan pembinaan kader. Kekuatan
KOKAM Jawa Tengah berpusat di Pekalongan yang mempunyai satu kompi
“Pasukan Inti”, yang mendapat latihan dan pembinaan dari ABRI. Disamping
Pekalongan, Surakarta juga mempunyai kesatuan-kesatuan KOKAM,
diantaranya ada pasukan intinya yang diberi nama “Fighting Flower”
(Bunga Penempa). KOKAM di Surakarta juga bahu membahu dengan ABRI
khususnya RPKAD.
Pembentukan KOKAM
Jawa Timur cukup unik, Fatchurrahman pada tanggal 1 Oktober 1965
kebetulan berada di jakarta. Letnan Kolonel S. Prodjokusumo mengangkat
beliau langsung menjadi Komandan KOKAM Jawa Timur, setelah pulang ke
Jawa Timur, barulah beliau menyusun pasukannya. Unsur-unsur perwira
Angkatan Darat dan Angkatan Laut di Jawa Timur yang melatih dan membina
bahkan ada yang langsung memimpin kesatuan KOKAM. Jawa Timur merupakan
daerah yang paling rawan ke-2 setelah Jawa Tengah. Pernah dalam suatu
upacara, barisan KOKAM terkena berondongan peluru.Diluar Jawa tercatat yang secara teratur memberikan laporan, antara lain Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Riau, dan Jambi. Bahkan KOKAM Sulawesi Selatan diberi pinjaman senjata oleh ABRI dan mengadakan camping bersama ABRI. KOKAM Lampung bekerjasama dengan Pimpinan Perkebunan Negara dan mendapat pinjaman kendaraan Landrover dan sebagainya.
Ditulis Oleh: (Komandan Operasional KOKAM Markaz Daerah Sleman)
Sumber: Buku SESOSOK PENGABDI “SERBA-SERBI PRIBADI H.S. PRODJOKUSUMO”
(Diterbitkan oleh Yayasan Amal Bakti Masyarakat Jakarta. Cetakan
Pertama tahun 1990)
http://www.kokam.or.id/
http://www.kokam.or.id/

mantab..mari kita lanjutkan FASTABIKHUL KHOIROTH...
BalasHapus