![]() |
| Gambar: KOKAM Temon |
Pancasila diperas menjadi Trisila, Trisila diperas menjadi Ekasila,
Ekasila adalah Gotong Royong. Gotong Royong itu terwujud dalam NASAKOM.
NASAKOM adalah singkatan dari NAS (Nasional), A (Agama), KOM (Komunis).
Pemuda Muhammadiyah tidak mendapat tempat di Front Nasional karena
ditolak menjadi anggota Front Pemuda. Yang menjadi anggota Front Pemuda
hanyalah organisasi Pemuda yang berafiliasi dengan partai politik.
Untuk mengimbangi kegiatan Internasional yang sudah menjurus ke kiri,
ummat Islam mengadakan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA). Komferensi
pendahuluan dilaksanakan pada tanggal 6 – 22 Juni 1964 di Jakarta,
sedang Main Conference (Konferensi utamanya) diselenggarakan di Bandung
dari tanggal 6 – 14 Maret 1965.
Baik pada konferensi pendahuluan maupun pada konferensi utama susunan
delegasi Indonesia orangnya tetap yaitu: K. H. Dr. Idham Chalid, H.
Anwar Tjokroaminoto, H. A. Sjarchu, K.H. Sirajuddin Abbas, K.H.A Badawi
(Muhammadiyah), Wartomo Dwidjojuwono (GASBIINDO), H. Aminuddin Aziz
(NU), H. Marzuki Yatim (Muhammadiyah), H. Sofyan Sirajd (PERTI), H.M.
Subhan Z.E (NU), H. Dja’far Zaenuddin ( Al Washliyah), Let. Kol. Isa
Idris (Pusrah AD), Syeh Marhaban (PSII), Hamid Widjaja (NU), Drs. Saidan
Sohar. Sedangkan Drs. Lukman Harun duduk sebagai Wakil Sekretaris
merangkap anggota “Pratical Working Comite” untuk delegasi Indonesia.
Pak H.S. Prodjokusumo duduk di dalam sekretariat panitia penyelenggara
dan ketua seksi pengerahan massa. Seksi pengerahan massa dibagi dua sub,
untuk sub seksi pengerahan massa Jakarta dan sub seksi pengerahan massa
Bandung.
Sub seksi pengerahan massa di Jakarta dipercayakan kepada Kuaseni
Sabil (PERTI) sebagai ketua, dan wakil ketua Suhadi (NU) dan wakil ketua
Muhammad Suwardi (Muhammadiyah). Kuaseni sebagai ketua tidak dapat
berbuat banyak karena di PERTI sulit untuk mengerahkan massa, maka semua
kegiatan dipercayakan kepada wakil ketua yaitu Suhadi (NU) dan Drs. H.
Muhammad Suwardi.
Di sinilah, ummat Islam menunjukkan kekuatannya dalam pengerahan
massa. Massa ummat Islam terdiri tua-muda, pria-wanita, baik pada waktu
penyambutan di Jakarta maupun di Bandung. Penyambutan di Jakarta dapat
dibagi dua bagian: pertama, pengerahan massa di sepanjang jalan yang
akan dilalui oleh para delegasi dan disitu ummat Islam sambil
melambaikan bendera Merah Putih dan Bendera Negara peserta KIAA, mereka
mengelu-elukan dengan takbir “Allahu Akbar”.
Atas usul ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah ) Jakarta Raya
mengambil inisiatif bersama-sama Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah
Jakarta di bawah asuhan: Letnan Kolonel S. Prodjokusumo, H. Ibrahim
Nazar, Noerwidjojo Sardjono, Drs. Lukman Harun, Sutrisno Muhdam, BA,
Drs. Haiban, dan Muhammad Suwardi, BA, merencanakan mengadakan kursus
kader yang dinamakan Kader Takari. Pengkaderan ini tujuannya adalah
untuk meningkatkan mental, daya juang keluarga besar Muhammadiyah dalam
menghadapi segala kemungkinan.
Kursus Kader yang dibuka pada tanggal 1 September 1965 ini, diikuti
oleh 250 orang untuk Angkatan Pertama terdiri dari orang tua yang
bersemangat muda dan angkatan muda laki-laki dan perempuan dari utusan
Cabang. Acara ini diselenggarakan di Aula UMJ Jl. Limau, dan penanggung
jawab kursus ini adalah PDM DKI Jakarta.
Materi yang diberikan antara lain: Tauhid, Kemuhammadiyahan,
Kepribadian Muhammadiyah, Fungsi Kader Muhammadiyah dalam Revolusi,
tentang Front Nasional, tentang Gerakan Massa Revolusioner, tentang
Keamanan dan Pertahanan, tentang Revolusioner yang sedang Berkembang dan
lain-lain. Yang memberikan kursus kader disamping oleh tokoh-tokoh
Muhammadiyah sendiri, utamanya oleh: H. Mulyadi Djojomartono, Jendral
A.H. Nasution, Jenderal Polisi Sutjipto Judodiharjo, Mayor Jenderal
Soetjipto, SH dan Kolonel Djuhartono.
Kursus kader berjalan dengan lancar, pada malam tanggal 30 September
1965 yang memberikan ceramah adalah Jenderal Polisi Sutjipto Judodiharjo
sampai jam 21.20, kemudian berikutnya diisi oleh Jendral A.H. Nasution.
Dalam ceramahnya beliau dengan berani menentang ide Angkatan ke-5.
Angkatan ke-5, tidak lain Angkatan Tambahan yang tidak termasuk dalam
ke-4 angkatan yang sudah ada, yaitu barisan rakyat yang dipersenjatai.
Semua yang disampaikan pada peserta kursus memberikan motivasi yang
sangat bernilai dan menjadi pedoman bagi mereka. Jam 23.30 Jendral A.H.
Nasution baru meninggalkan Universitas Muhammadiyah.
Pada tanggal 1 Oktober 1965, hari Jum’at, pada waktu berita jam 7.15
pagi RRI Jakarta menyiarkan pengumuman “Gerakan 30 September”. Dari
pengumuman itu ditujukan kepada Jenderal-jenderal anggota Dewan Jenderal
yang akan mengadakan coup kepada pemerintah. Kemudian siaran itu
diulang kembali pada jam 8.15.
Siang harinya pukul 13.00 kembali disiarkan sebuah dekrit tentang
pembentukan Dewan Revolusi dengan mengumumkan sederetan nama orang-orang
penting di bawah pimpinan Letnan Kolonel Untung dan wakil-wakilnya
Brigadir Jenderal Supardjo, Letnan Kolonel Udara Heru, Kolonel Laut
Sunardi dan Komisaris Besar Polisi Anwas.
Peserta kursus sudah berdatangan ke Universitas Muhammadiyah jl.
Limau Kebayoran Baru, seolah-olah tidak terjadi apapa-apa, mereka
memenuhi aula menunggu kedatangan pemateri yang mengisi malam itu adalah
Mayor Jenderal Soetjipto, SH. Kemudian panitia mengumumkan kepada
peserta kursus diskors, Pimpinan akan sidang sebentar. Pimpinan yang ada
pada waktu itu H.S. Prodjokusumo, Drs. Lukman Harun, Sutrisno Muhdam,
H. Soejitno, Drs. Haiban HS, Sumarsono, Imam Sam’ani, Jalal Sayuthi, dan
penulis sendiri (Drs. H. Muhammad Suwardi), mengadakan sidang darurat
dan kilat di ruang rektor UMJ yang hanya diterangi dengan lilin, karena
pada hari itu semua aliran listrik putus.
Setelah semua kumpul di ruang Rektor, Drs. Lukman Harun memberikan informasi kepadsa yang hadir, yang isinya:
- Apa yang menamakan dirinya “Gerakan 30 September” yang telah membentuk Dewan Revolusi serta mendemisionerkan kabinet Dwikora sebenarnya adalah suatu perebutan kekuasaan.
- Menurut informasi yang dapat dikumpulkan yang mendalangi perebutan kekuasaan tersebut adalah PKI / DN Aidit.
- Negara dalam keadaan bahaya. Presiden dan beberapa prang Perwira Tinggi hilang belum ada kabar beritanya.
- Terjadi penculikan terhadap beberapa orang Jenderal Pimpinan Angkatan Darat
- Perlu disampaikan kepada seluruh Pimpinan dan Anggota Pemuda Muhammadiyah untuk siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan.
Pada waktu itu Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai Kepala Piket di HANKAM telah mendapat breefing pula di HANKAM seputar masalah G30S / PKI pada hari Jum’at tanggal 1 Oktober 1965.
Berdasarkan informasi tersebut maka diambil keputusan atas usul
Letnan Kolonel S. Prodjokusumo untuk perlunya dibentuk Komando
Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Muhammadiyah dan kemudian forum mengangkat
Letnan Kolonel S. Prodjokusumo menjadi komandannya dan UMJ jl. Limau
sebagai markasnya.
Setelah kebijaksanaan tersebut diambil pimpinan kembali ke Aula dan
peserta kursus diminta berkumpul ke Aula. Skors dicabut Letnan Kolonel
S. Prodjokusumo yang telah diangkat sebagai komandan menyampaikan
penjelasan kepada peserta kursus, bahwa pemateri malam ini Mayor
Jenderal Soetjipto, SH tidak bisa hadir karena saat ini negara dalam
keadaan darurat. Kemudian menyampaikan informasi-informasi dan atas usul
pimpinan dan disambut dengan suara bulat oleh peserta kursus untuk
membentuk “Kesatuan Perjuangan di dalam Muhammadiyah Jakarta Raya”
dengan nama “Komando Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Muhammadiyah” yang
disingkat KOKAM. Tepat jam 21.30 tanggal 01 Oktober 1965 diproklamirkan
berdirinya KOKAM.
Kemudian Pak Prodjokusumo selaku Komandan KOKAM mengeluarkan instruksi sebagai berikut:
- Di setiap Cabang Muhammadiyah segera dibentuk KOKAM
- Seluruh pimpinan cabang setiap hari harus memmberikan laporan ke Markas Besar KOKAM di Jl. Limau Kebayoran Baru.
- Angkatan Muda Muhammadiyah disetiap cabang bertanggungjawab atas keselamatan semua keluarga Muhammadiyah di Cabangnya masing-masing
- Seluruh pimpinan Angkatan Muda Muhammadiyah siap dan waspada menghadapi segala yang terjadi guna membela Agama, negara dan bangsa
- Mengadakan kerjasama yang sebaik-baiknya dengan kekuatan-kekuatan yang anti Gerakan 30 September.
Setelah selesai mengeluarkan instruksi (Perintah Harian) maka peserta
kursus dipersilahkan pulang ke tempat masing-masing dengan sikap
waspada.
Tanggal 2 Oktober 1965, informasi-informasi sudah cukup banyak masuk
dan telah dapat membaca situasi yang sebenarnya. Karena pada tanggal itu
Komandan Gabungan V Koti Brigadir Jenderal Sutjipto, SH mengundang
Pimpinan Partai Politik dan Organisasi massa untuk datang ke Kantor
Gabungan V Koti di Merdeka Barat untuk mendengarkan breefing mengenai
perkembangan yang terjadi di tanah air. Brigadir Jenderal Sutjipto, SH
menerangkan segala sesuatu yang terjadi, bagaimana jalannya perebutan
kekuasaan oleh Gerakan 30 September. Dijelaskan oleh Beliau bahwa
perwira tinggi Angkatan Darat telah diculik oleh G 30 S PKI, mereka itu
adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Haryono Mastirtodarmo,
Mayor Jenderal Suwondo Parman, Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan dan
Brigadir Jenderal Soetojo Siswodimiharjo. Sedangkan Jenderal A.H.
Nasution yang sampai jam 23.00 memberikan ceramah di kursus Kader
Muhammadiyah, yang pada waktu itu jabatan beliau selaku Menteri
Kopartemen Hankam atau Kepala Staf Angkatan Bersenjata yang menjadi
sasaran utama berhasil meloloskan diri dari usaha penculikan tetapi
putri beliau, Ade Irma Suryani Nasution tewas akibat tembakan penculik.

berarti kokam di bentuk tahun 1965, to
BalasHapus